<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cerita melani</title>
	<atom:link href="http://melanilaksmono.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://melanilaksmono.com</link>
	<description>a paperless diary through melani&#039;s journey in her sharing</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Jun 2009 11:42:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Tiga Jam di UGD</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=22</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=22#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 11:42:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB ketika kami melihat mama memerlukan bantuan khusus. Akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa ke rumah sakit, tepatnya ke Unit Gawat Darurat (UGD), karena sudah lewat jam praktek dokter pada umumnya. Ini, untuk kesekian kalinya aku harus mengantarkan orang tua masuk rumah sakit. Malam itu UGD sedikit lain dari biasanya. Biasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="newsBody"><span>Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB ketika kami melihat mama memerlukan bantuan khusus. Akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa ke rumah sakit, tepatnya ke Unit Gawat Darurat (UGD), karena sudah lewat jam praktek dokter pada umumnya.</p>
<p>Ini, untuk kesekian kalinya aku harus mengantarkan orang tua masuk rumah sakit. Malam itu UGD sedikit lain dari biasanya. Biasanya aku hanya mendapatkan 2-3 pasien di UGD, kali ini penuh, bahkan ruang bertiraipun sudah tidak cukup. Aku langsung teringat dokter Leonardo yang sedang ‘mencari ilmu di UGD’. (Begini ya dok, kalau sedang sibuk.)</p>
<p>Para suster dan dokter jaga sibuk mondar mandir. Isian regristasi terlihat di’antri’ di atas meja. Belum lagi kewajiban mengukur suhu badan dan tekanan darah, membuat hiruk pikuk ruang UGD. Tak ketinggalan keluarga dari pasien yang sedang menunggu tindakan. Seperti biasa, tidak cukup hanya satu orang pengantar mengantar si sakit.</p>
<p>&#8220;Wah, bakal lama,&#8221; pikirku. Sementara mama sudah merasa kedinginan dan gelisah karena merasa tidak ada dokter yang menolong. Sementara  erangan sakit dan kegelisan terdengar, keluhan; baik dari sipasien maupun pengantar, terdengar dalam pembicaraan mereka.</p>
<p>Tiba giliran dokter memeriksa mama. Dokter bertanya kepada kami dan memberi petunjuk kepada suster untuk memberi tindakan pertama (memberi obat dan infus), kemudian memutuskan untuk melakukan pemeriksaan darah lengkap serta menganjurkan untuk opname. Kamipun menyetujui. Membawa surat pengantar, aku pergi ke ruang registrasi rawat inap. O…o, ternyata disanapun antri.</p>
<p>Aku menunggu giliranku, sambil mendengar percakapan antara keluarga pasien dan petugas registrasi. Ternyata kamar yang isinya lebih dari satu orang untuk pasien pria sudah penuh. Dengan penuh harap bahwa sipasien bisa diterima, sang keluarga bercerita bahwa sudah turun temurun mereka menggunakan jasa rumah sakit itu, bahkan sicalon pasien lahir disitu. Wah, ini yang dinamakan serba salah, orang sakit <em>kok</em> ditolak tapi kamar sudah penuh. Akupun menyadari, ini yang orang katakan, “lari-lari cari rumah sakit”. &#8220;Semoga masih ada kamar untuk mama,&#8221; pikirku.</p>
<p>Aku segera dilayani. Kuisi formulir, kupilih kamar yang kuinginkan, kuserahkan semua itu kepada petugas. Dan…<em>yah</em>…, ucapan pertama yang kudengar adalah berita bahwa kamar yang diinginkan penuh. Satu level ke bawah dan satu level ke atas penuh juga. Ada 3 level di atasnya, dengan pasrah aku jawab ‘iya’, tapi tolong diantrikan untuk kamar yang kuinginkan. Kamar termurah Rp. 75.000,- dan kamar termahal Rp. 1.125.000,- permalam. Tak terbayang kalau aku harus pindah rumah sakit. Lebih tidak terbayang lagi jika harus berganti dokter. Dokter yang sudah mengetahui sejarah penyakit mama bahkan sudah seperti dokter keluarga. Terkadang aku tinggal menelepon atau sms untuk minta ‘nasihat’ jika ada sesuatu yang perlu dikonsultasikan dengan beliau.</p>
<p>Setelah selesai administrasi, aku kembali ke ruang UGD untuk membayar uang muka (pada malam hari, hanya kasir UGD yang buka). Setelah selesai membayar kuserahkan semua berkas ke suster yang bertugas. Susterpun bertanya, mau pakai dokter siapa? Kusebutkan nama dokter yang biasa merawat mama. Loh, terkejut aku dibuatnya ketika mendengar jawaban si suster, &#8220;Tidak bisa bu, karena rujukannya dokter penyakit dalam. Sedang dokter mamanya adalah neurolog.&#8221; Kuminta agar dokternya mama jadi dokter utama, biarlah dia yang memilih ‘tim’nya. Setelah ngotot-ngototan terjadi, akhirnya aku mengalah, daripada tidak masuk-masuk kamar, kupilih salah satu dokter penyakit dalam.</p>
<p>Proses selanjutnya, jika hasil laboratorium sudah selesai dokter jaga akan menelepon dokter yang telah dirujuk untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan sebelum masuk kamar. Kami kembali dalam penantian.</p>
<p>Kuperhatikan orang-orang di sekitarku, rata-rata mereka sudah membawa ‘gembolan’, alias sudah siap jika si pasien harus rawat inap. Untuk para sepuh yang mempunyai penyakit-penyakit tertentu, pihak keluarga sudah hafal dengan obat yang diberikan atau siap dengan daftar obat jika ditanya oleh dokter. Sedangkan untuk pasien-pasien yang hanya memerlukan bantuan pertama, diberi pertolongan tindakan untuk kemudian diobservasi, jika sudah baikan maka dipersilahkan pulang. Jika tidak ada perbaikan, maka kemungkinan besar akan dirujuk rawat inap.</p>
<p>Sedang asyik melihat-lihat, tiba-tiba pintu UGD terbuka, terlihat seorang wanita muda mengalami kesulitan bernafas. Keluarganya terlihat panik. &#8220;Kenapa?&#8221; pikirku. Adikku berbisik, &#8220;sepertinya kalau tidak asma, alergi.&#8221; Berhubung yang masuk bersamaan ada 3 pasien, dokter jagapun melihat-lihat keadaan para pasien sebelum memutuskan siapa yang harus didahulukan.</p>
<p>Wanita muda itu akhirnya mendapat prioritas. Dari pembicaraan yang sepintas terdengar, rupanya wanita itu kena alergi kemudian nimum insidal (obat anti algergi), ternyata tidak manjur. Sampai terjadi kesulitan bernafas seperti itu. <strong>Ternyata alergi saja bisa sampai masuk UGD</strong><em>.</em></p>
<p>Jam sudah menunjukkan pukul 00 lewat sekian menit ketika suster dan petugas UGD masuk ke bilik kami. “Mari, sudah siap untuk ke kamar, dari hasil laboratorium, mamanya tidak perlu tindakan lebih lanjut.” Bersamaan itu juga suster mengatakan bahwa dokter utamanya jadi dokternya mama, bukan dokter penyakit dalam yang kupilih. Terlepas dari apa yang terjadi di belakang layar sehingga keputusan itu berubah, aku merasa lega.</p>
<p>Sebelum petugas mendorong tempat tidur mama, masih kudengar dari bilik sebelah…<em>dokternya lama amat sih</em>… Itulah UGD, buat yang menanti rasanya lama, buat para petugas rasanya sudah bekerja dengan kecepatan tinggi. Yang pasti malam itu aku mendapat ‘ilmu’ lagi, jangan meremehkan alergi.</p>
<p></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=22</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trend Mode 2008: Emphasis IPMI</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=21</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=21#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 14:21:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ipmi]]></category>
		<category><![CDATA[tren mode 2008]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Liat mode show yukkk, kata adikku. Bagus dech, ini trend mode di Indonesia tahun 2008 yang ngadain IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) &#8230;mumpung dikasih tiket nich. Sekali-kali liat langsung, daripada liat di majalah melulu. Akhirnya aku menyerah, menemani adikku yang lebih gemar mode dibandingkan aku. Sekali-kali ganti suasana pikirku.Kemarin malam 6 Desember 07 di The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><em>Liat mode show yukkk</em>, <em>kata adikku. Bagus dech, ini trend mode di Indonesia tahun 2008 yang ngadain IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) &#8230;mumpung dikasih tiket nich. Sekali-kali liat langsung, daripada liat di majalah melulu.</em> Akhirnya aku menyerah, menemani adikku yang lebih gemar mode dibandingkan aku. Sekali-kali ganti suasana pikirku.Kemarin malam 6 Desember 07 di The Hall Senayan City, Jakarta jam 20.00 aku dan adikku melihat hasil karya perancang Indonesia, Emphasis Trend 2008.</p>
<p>Kesan aku pertama kali masuk hal, <em>yach</em>&#8230;aku berada di dunia lain. Penampilan orang-orangnya, benar-benar dengan bermacam gaya dan mode baju. Mataku langsung menyapu alias jelalatan melihat sesuatu yang baru untukku (yang lain juga jelalatan kok, mungkin saling ngintip apa yang dipakai orang lain). Dari yang pakaiannya cuma kaos singlet (menurutku) sampai model abis. Ukuran tubuh&#8230;mulai dari yang ukuran model (cewe dan cowo) sampai ukuran besar&#8230;ada, lengkap. Aku sendiri pakai blus kaos dan celana panjang katun&#8230;itulah modeku <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Acara yang dimulai terlambat ini, akhirnya dimulai setelah tepuk tepuk tangan yang disengaja oleh para juru foto media dan artis Robby Tumewu serta teman-temannya. Aku juga melihat ibu Pia yang selalu jadi sesepuh dalam acara-acara seperti ini. Aku rasa banyak orang beken lainnya tapi aku kurang mengenal.</p>
<p><img src="http://img140.imageshack.us/img140/5980/picture23kc5.jpg" alt="" width="320" height="240" align="left" />Show pertama dimulai oleh rancangan Susie Hedijanto. Rancangannya didasarkan pada etnik Jawa. Aku langsung jatuh cinta pada rancangan ini. Motif batik modern tetapi tetap bercirikan Jawa dan ciri khas warna warni Indonesia, benar-benar menjadi satu. Warna dominan merah, teracota, hijau mendominasi rancangannya.</p>
<p>Penampilan kedua oleh Syahreza Muslim. Pada kesempatan ini dia memadukan nuansa romatis dan elegan. Untukku rancangannya kurang mengena. Tidak terbayang sebenarnya mau dipakai untuk apa? Atau seni apa yang mau ditonjolkan?</p>
<p>Pendatang baru di dunia mode, Priyo menampilkan Eksotik Asia&#8230;<em>wow</em>&#8230;serasa aku ingin langsung memakai rancangannya. Sederhana dan ciri asianya kental. Jika ingin bersantai tapi modis&#8230;rancangan Priyo ini sangat mengena.</p>
<p>Selanjutnya Carmanita yang sudah sangat dikenal kenal kain hasil ‘printing&#8217;nya sendiri. Aku langsung teringat batik tulis. Inilah hasil bangsa Indonesia yang lain, kain cetak yang didesain sendiri. Yang mengagumkan adalah permainan motif dan warna&#8230;kembali lagi warna warni  ini yang menjadi ciri khas ke Indonesiaan.</p>
<p>Liliana Lim menampilkan Jewel of Asia. Kekagumanku terhadap Liliana adalah menempelkan batu-batuan di kain tanpa memberati dan merobek kain tersebut. Rancangannya sendiri lebih mengarah ke baju pesta yang menonjolkan bebatuan tersebut.</p>
<p><img src="http://img452.imageshack.us/img452/8439/picture24tg3.jpg" alt="" width="320" height="240" align="right" />Terakhir Denny Wirawan&#8230;salut untuk perancang yang satu ini. Bajunya jelas tidak akan kupakai tapi seni dari hasil karyanya ini yang membuat decak kagum kagum. Aku ingin mejabarkan dengan istilahku sendiri ya&#8230;warna campuran coklat dan kopi juga biru laut membuat mata ingin mengikuti kemana pemakai tersebut berjalan. Detil potongon kain yang rapih membuat dipemakai selalu berasa jalan di cut walk. Kain-kain tersebut mebuat gelombangnya sendiri tanpa perlu efek angin atau kipas angin, membuat anggun dipemakainya. Rasanya tepat Denny Wirawan ditaruh pada puncak acara.</p>
<p>Jika aku tiba-tiba jadi modis maka aku akan memilih rancangan Susie Hedijanto untuk baju pestaku dan Priyo untuk keseharian-harianku.</p>
<p>Sukses untuk para perancang mode Indonesia. Teruslah berkarya.</p>
<p>Foto-foto hasil perancang-perancang di akhir acara.</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=21</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasib Keraton-keraton di Indonesia</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=20</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=20#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 14:16:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keraton]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ke Jogja, aku harus ke keraton. Ingin tau kebagusan dan kehebatan keraton. Apalagi Sultan-nya masih sangat dihargai oleh masyarakat setempat bahkan orang Indonesia pada umumnya. Beberapa waktu lalu aku pun ke Jogja. Kembali aku menginjak kaki di Malioboro.  &#8221;Jalan kaki dari sini saja, keratonnya sudah dekat,&#8221; kata temanku. Kamipun menyusuri jalan yang menuju keraton. Sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/DOCUME~1/andy/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot-2.jpg" alt="" />Kalau ke Jogja, aku harus ke keraton. Ingin tau kebagusan dan kehebatan keraton. Apalagi Sultan-nya masih sangat dihargai oleh masyarakat setempat bahkan orang Indonesia pada umumnya.</p>
<p>Beberapa waktu lalu aku pun ke Jogja. Kembali aku menginjak kaki di Malioboro.  &#8221;Jalan kaki dari sini saja, keratonnya sudah dekat,&#8221; kata temanku. Kamipun menyusuri jalan yang menuju keraton. Sampai di depan bangunan yang kami pikir keraton, kami bingung&#8230;tidak ada petunjuk apa-apa. Setelah bertanya kepada seorang ibu, kami ditunjukkan pintu masuk keraton.</p>
<p>Membayar tanda masuk Rp. 500,- pe rorang  ditambah Rp. 1.000,- untuk kamera, kami masuk ditemani ‘guide&#8217; keraton. Keraton masih sepi, tamunya baru kami berdua. Aku langsung melayangkan mata ke halaman dan gedung keraton. Jauh dari bayanganku. Keraton Jogja kok seperti ini. Mungkin aku salah, belum lihat bagian yang dapat dibanggakan.</p>
<p>Mulailah sang <em>guide</em> menceritakan sejarah kekeratonan, tempat-tempat yang sekarang masih dipakai. Karena mau sekatenan, mereka sedang bersiap-siap. Pendopo yang telah dipugar akan dijadikan inti dari acara sekatenan ini.</p>
<p>Kemudian kami ditunjukkan berbagai pakaian adat untuk acara resmi keraton: baju prajurit, komandan tak ketinggalan baju adat khitanan sampai acara mantenan. Baju-baju ini masih dipakai. Terakhir kami diperlihatkan seperangkat gamelan kuno yang masih terawat.</p>
<p>Ya, kami selesai melihat keraton Jogja. Kesanku, aku terlalu berharap melihat sesuatu yang menakjubkan.</p>
<p>Keraton Jogja adalah keraton kedua yang kukunjungi setelah keraton di Cirebon sewaktu ikut Rally De Blogger bersama wikimu.</p>
<p><img src="http://img155.imageshack.us/img155/3378/keratonpakaianprajuritpz9.jpg" alt="" width="292" height="320" align="right" />Berharap keraton Jogja lebih terawat daripada keraton Cirebon, dugaanku salah. Kemudian aku melihat keraton Solo, sama saja. Mulailah bertanya-tanya dalam hati. Kalau Cirebon sang Sultan memang sudah tidak aktif, lain hal Jogja dan Solo yang Sultannya masih aktif. Aku berharap lebih terawat.</p>
<p>Dengan tiket masuk Rp. 500,- perorang, pasti tidak akan dapat menutupi biaya perawatan keraton. Apakah pemerintah turut peduli terhadap salah satu peninggalan sejarah bangsa Indonesia ini? Atau para Sultan sendiri yang harus mengupayakannya? Tak terbayang, untuk menjalankan suatu ritual yang harus mereka laksanakan saja, pasti memakan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi para abdi dalem dan keluarganya yang harus juga dibiayai. Lalu kesultanan ini dapat penghasilan dari mana?</p>
<p>Sambil keluar dari keraton, aku bersungut-sungut. Aduh keraton yang masih tampak sisa kebagusannya ini, kenapa tidak terlihat indah ya. Nilai sejarah, nilai seni bahkan adat istiadatnya terasa tenggelam dimakan modernisasi. Aku melihat para turis mulai berdatangan. Apa yang ada di dalam pikiran mereka ya? Sementara temanku yang melihat aku bersungut-sungut berkata, mertuaku tidak pernah mau diajak ke sini. Bukan tidak suka. Tidak tega melihat meninggalkan yang kurang terawat, tidak tega terhadap pendahulu yang membangunnya. Masih berapa banyak lagi peninggalan bersejarah di Indonesia yang kurang dan belum terawat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=20</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Berbelanja, Lika-liku Berburu Barang sampai  Tipe Pembelanja</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=19</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 14:22:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/2008/01/24/seni-berbelanja-lika-liku-berburu-barang-sampai-tipe-pembelanja/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu kesenanganku adalah ‘Menemani Orang Berbelanja’. Aku sendiri bukan tipe orang yang senang belanja. Definisi ‘belanja’ yang kumaksud adalah berbelanja kebutuhan yang bukan primier (utama). Setiap kali aku diminta untuk menemani orang berbelanja di pasar, supermarket, mall, outlet sampai pasar bunga dan pasar ikan, akan kujabani! Jadi kalau di antara kalian perlu teman, boleh hubungi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><font face="Calibri">Salah satu kesenanganku adalah ‘<strong>Menemani Orang Berbelanja’</strong>. Aku sendiri bukan tipe orang yang senang belanja. Definisi ‘belanja’ yang kumaksud adalah berbelanja kebutuhan yang bukan <em>primier </em>(utama).</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Setiap kali aku diminta untuk menemani orang berbelanja di pasar, supermarket, <em>mall, outlet</em> sampai pasar bunga dan pasar ikan, akan <em>kujabani</em>! Jadi kalau di antara kalian perlu teman, boleh hubungi aku.<span>  </span>Cuma, tahapku baru sampai pembeli barang, belum membeli jasa.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Ada sebuah alasan, kenapa aku senang sekali menemani teman-temanku belanja. Karena dengan begini aku jadi tahu kesukaan mereka.<span>  </span>Termasuk cara mereka memilih barang sampai acara tawar-menawar atau pertimbangan mereka untuk jadi membeli atau tidak.<span>  </span>Singkatnya, sampai ada kata <em>“putus”</em>.<span>  </span>Diputuskan masuk keranjang belanjaan atau diputuskan ditaruh kembali di tempatnya alias batal dibeli.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Karena punya sederet pengalaman mengantar belanja, akhirnya aku bisa membuat semacam kategori untuk para pembelanja.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Versiku ini, didasarkan pada beberapa parameter yang biasanya unik dan berbeda-beda pada setiap orang, di mana akhirnya menjadi ciri khas yang bersangkutan.<span>   </span></font></span><span><font face="Calibri"> </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Uraiannya sebagai berikut:</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri"><strong>Berdasarkan barang yang [akan] dibeli</strong>.<span>  </span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span></span></font></span><span><font face="Calibri">Ini yang menjadi pertimbangan mereka pergi berbelanja.<span>  </span>Ada orang yang sudah tahu apa yang mau dibeli. Jadi sewaktu berbelanja tinggal mempertimbangkan kualitas serta harga.<span>   </span>Mereka ini masuk <strong>‘Tipe sudah tahu’</strong>.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Misal, orang itu akan membeli bunga mawar.<span>  </span>Ya di tempat tujuan tinggal memilih warna sesuai dengan persediaan yang ada dan harga yang cocok.<span>  </span>Demikian pula sebaliknya, kalau mau bunga warna merah tapi terserah jenisnya apa, ya nanti lihat di sana bunga yang tersedia apa saja. Lalu tinggal pilih. </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Yang repot adalah orang yang tidak tahu mau beli apa tapi ingin pergi belanja! Contohnya, seseorang butuh baju kerja tapi tidak tahu ingin warna apa dan modelnya bagaimana.<span>  </span>Jadi bisa dibayangkan alangkah lama waktu belanja yang diperlukan.<span>  </span>Tipe yang demikian aku sebut sebagai <strong>‘Tipe belum tahu’</strong>.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Namun, ada lagi tipe yang lebih ‘lucu’ soal kebutuhan membeli barang ini.<span>  </span>Yaitu sebuah tipe yang kusebut sebagai <strong>‘Tipe boros di ongkos dan waktu’</strong>.<span>  </span></font></span><span><font face="Calibri">Yaitu mereka yang senangnya lihat-lihat dulu kemudian dipertimbangkan semua yang sudah dilihat bahkan kalau perlu keputusannya tidak pada saat itu. Yang ini hasilnya, bolak-balik ke tempat tujuan.<span>  </span>Jelas boros di waktu dan ongkos, kan?</font></span><span><font face="Calibri"> </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri"><strong>Berdasarkan waktu berbelanja</strong>. </font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Umumnya, saat butuh sebuah barang maka seseorang akan berbelanja.<span>  </span>Istilahnya, mau tidak mau harus ada, soalnya lagi butuh.<span>  </span>Mereka yang membeli barang karena alasan ini aku kategorikan sebagai <strong>‘Tipe yang cenderung untuk melihat kegunaan’</strong>, kesenangan ataupun kualitas si barang belanjaan.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Tapi, ada lagi tipe yang berbelanja karena mementingkan gaya, ketenaran bahkan sekadar ikut-ikutan.<span>  </span>Masuk ‘<strong>Tipe modis’</strong> atau selalu mengikuti mode alias <em>up-to-date</em>. Bahkan kalau perlu sampai bikin <em>statement</em>, “Saya harus punya tanaman gelombang cinta.” </font></span><span><font face="Calibri">Jadi, orang<span>  </span>itu mempunyai tanaman gelombang cinta bukan karena suka, bukan karena butuh, juga bukan karena pertimbangan investasi tetapi lebih karena, “Tetangga saya punya, kenapa saya tidak punya?” (bisa gengsi, bisa ikut arus) atau ”Hmmm, kalau saya tidak punya sekarang nanti akan banyak dipunyai orang.<span>  </span>Jadi,<span>  </span>saya harus dapat predikat yang duluan punya.<span>  </span>Pokoknya yang paling awal memiliki.”</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Tipe ini, berbanding terbalik dengan <strong>‘Tipe diskon’</strong> atau <strong>‘Tipe harga miring’</strong>. Cirinya lebih gampang terlihat, tunggu saja sampai ada diskon atau harga promo. <span> </span>Pendeknya bisa dapat harga terbaik.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Meski demikian, kualitas masih mereka pertimbangkan juga, lho. Tipe ini biasanya jeli.<span>  </span>Dapat menghitung Rupiah yang akan dikeluarkan, juga tahu apa kebutuhan mereka yang akan dibeli.<span>  </span>Biasanya lagi, mereka hapal kapan akan sale!<span>  </span>Dan jangan salah, tipe ini akan tahu ini diskon-diskonan atau benar-benar diskon.</font></span><span><font face="Calibri"> </font></span></p>
<p><span></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Nah, setelah panjang lebar membeberkan aneka tipe pembelanja tadi,<span>  </span>mungkin kalian bertanya-tanya:<span>  </span>tipe manakah yang<span>  </span>paling aku sukai sewaktu menemani orang berbelanja?<span>  </span>Pilihanku jatuh pada: Tipe sudah tahu apa yang mau dibeli plus Tipe diskon. Ini nilai ekonomisnya paling tinggi!</font></span></p>
<p><span></span><font face="Calibri"><span>Uniknya, kalau ditanya tipe mana yang paling tidak kusukai, jawabnya tidak ada.<span>  </span><em>Lha wong</em> hobiku senang menemani orang belanja <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span></span></font><span><font face="Calibri">Dan buat diri sendiri, kalau mau menggolongkan diri ke tipe belanja yang bagaimana, hari gini … ya sedapat mungkin aku pilih diskon atau bonus. Tapi repotnya, aku ini termasuk susah untuk menentukan barang mana yang akan kubeli. Jadi tipe belanjaku bukanlah yang paling ekonomis.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Calibri">Soal paling ekonomis ini, aku juga punya contoh.<span>  </span>Beberapa waktu lalu, aku menemani seorang teman berbelanja. Dia sedang butuh rok. Didapatlah rok yang dia kehendaki, dan pastinya harga diskon. </font></span><span><font face="Calibri">Tiba di kasir, dia mengeluarkan <em>voucher</em> lagi.<span>  </span>Ternyata diskon tambahan! Jadi dia dapat <em>double</em> diskon. </font></span></p>
<p><span><font face="Calibri">Jarang-jarang ada toko yang mau memberlakukan hal itu. Biasanya barang diskon tidak akan dikombinasikan dengan diskon lainnya. Entah kenapa, dengan kejeliannya dia bisa mendapatkan hal menarik ini. </font></span><font face="Calibri"><span>Alhasil, bengonglah aku.<span>  </span>Beli kainnya saja belum tentu dapat, apalagi ditambah ongkos jahitnya. Sudah pasti ekonomis bangetlah jatuhnya!<span>  </span>Ini yang salah temanku atau tokonya ya?<span>  </span>Atau toko yang bersangkutan sedang bagi-bagi bonus kepada pelanggan juga? Boleh juga kalau banyak toko yang demikian.<span>  </span>Bonus dibagikan tidak hanya kepada karyawan tetapi kepada pelanggan juga <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=19</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>License to Wed</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=18</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=18#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 14:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[film dan musik]]></category>
		<category><![CDATA[john kasinski]]></category>
		<category><![CDATA[license to wed]]></category>
		<category><![CDATA[mandy moore]]></category>
		<category><![CDATA[robin williams]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/2007/11/05/license-to-wed/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah acara keluarga, sepupuku menanyakan kepada adikku yang akan menikah. Sudah nonton ‘license to wed&#8217;, nonton dech&#8230;cocok untuk orang yang akan menikah. Buat yang sudah nikahpun, boleh juga&#8230;biar ingat-ingat pernikahannya bagaimana. Terlepas dari nikah atau belum nikah filmnya juga lucu.Akhirnya Sabtu  kemarin (3/11) adikku bersama calonnya dan beberapa orang lagi nonton ‘license to wed&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah acara keluarga, sepupuku menanyakan kepada adikku yang akan menikah. Sudah nonton ‘license to wed&#8217;, nonton dech&#8230;cocok untuk orang yang akan menikah. Buat yang sudah nikahpun, boleh juga&#8230;biar ingat-ingat pernikahannya bagaimana. Terlepas dari nikah atau belum nikah filmnya juga lucu.Akhirnya Sabtu  kemarin (3/11) adikku bersama calonnya dan beberapa orang lagi nonton ‘license to wed&#8217; filem yang dibintangi oleh Robin Williams , Mandy Moore, John Kasinski.</p>
<p>Ceritanya ada seorang pastor Frank (Robin W) yang selalu memberi kursus perkawinan kepada calon pengantin untuk membuktikan bahwa mereka memang saling mencintai.</p>
<p>Ben Murphy (John K) &amp; Sadie Jones (Mandy M) yang sudah berpacaran selama 6 bulan memutuskan untuk segera menikah. Setelah menghadap Frank dan diberikan syarat untuk kursus perkarwinan, walaupun Ben berkeberatan, akhirnya ia setuju. Masing-masingpun diberi buku untuk menulis janji pernikahan mereka. Frank tidak akan menggunakan janji yang standar.</p>
<p>Test  pertama adalah interview pribadi. Frank mewawancarai Ben dengan berbagai pertanyaan yang terkadang memojokkan untuk mengetes kenapa Ben suka dengan Sadie. Test pertama ini boleh dikata tidak lolos karena dari jawaban Ben, ketertarikan kepada Sadie lebih banyak fisik.</p>
<p>Setelah beberapa tes, mulailah masuk ke keluarga. Di sini Frank mempersilahkan Ben memberikan pendapat tentang masing-masing orang dari keluarga Sadie. Mulai dari nenek, ayah, ibu dan seterusnya. Demikianlah dari pihak keluarga Sadie harus memberikan pendapat tentang Ben.</p>
<p>Di sini kekacauan mulai terjadi. Hujat menghujat terjadi. Sadie kecewa dengan Ben. Ben kecewa dengan Sadie. Hampir saja mereka melakukan hubungan intim untuk memecahkan persoalan ini, yang menurut Frank tidak boleh. Frank tahu karena ia selalu ‘menyadap&#8217; ruang mereka dengan cepat mengatasi hal ini.</p>
<p>Kekacauan kedua terjadi setelah dengan santainya Sadie menuturkan bagaimana keinginannya melakukan hubungan intim dengan Ben di depan Frank.</p>
<p>Tes terakhir adalah menyenai kepercayaan dan komunikasi antarmereka. Sadie harus mengendarai mobil dengan mata ditutup sedangkan Ben harus memberi petunjuk. Di sinipun terjadi pertikaian.</p>
<p>Ben semakin tidak suka dan ingin menjatuhkan Frank. Setelah dicari-cari akhirnya Ben menemukan titik lemahnya bahwa Frank pernah menikah (padahal pastor tidak boleh menikah). Ternyata penyelidikan Ben yang hanya setengah-setengah itu salah.</p>
<p>Marahlah Sadie dan membatalkan pernikahan tersebut, terlebih-lebih setelah Sadie mengetahui di buku janji pernikahan milik Ben, tidak ada tertera satu katapun, hanya ada sebuah gambar kartun. Akhirnya Sadie dan keluarga pergi berlibur ke tempat yang seharusnya jadi tempat bulan madu Sadie dan Ben di Jamaica.</p>
<p>Ben-pun menelepon Frank, menanyakan apakah dia orang yang pertama yang gagal melewati tes tersebut? Frank menjawab, siapa yang menentukan gagal, saya tidak pernah mengatakan ini berakhir. Seketika itu Ben sadar bahwa kuncinya adalah dirinya sendiri. Diapun menyusul Sadie.</p>
<p>Sedang Sadie curhat kepada keluarganya. Ternyata yang didapat adalah Sadie masih mengutamakan keluarga dan sahabatnya. Padahal sebagai suami tentu Ben ingin juga dijadikan tempat berpijak bagi Sadie.</p>
<p>Ini dia akhir yang romatis. Ben menuliskan janji pernikahannya di atas pasir. Setelah minta nasihat kepada Frank, Sadie-pun sadar bahwa cintanya kepada Ben adalah cinta sesungguhnya. Menikahlah mereka. Film ini diambil dari peristiwa sehari-hari yang dialami oleh pasangan mulai dari perbedaan pendapat, komunikasi, sampai masalah kepercayaan.</p>
<p>Dikemas dalam cerita komedi yang menarik walaupun terkadang telampau ekstrim, film ini tetap dapat menyampaikan pesan kepada pasangan-pasangan. Jalan ceritanya sendiri sudah dapat ditebak. Mulai dari masalah yang ringan sampai akhirnya terjadi puncak konflik dan terakhir kesadaran untuk memecahkan konflik tersebut.</p>
<p>Bolehlah untuk film hiburan yang membawa pesan ringan untuk kita semua.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=18</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disentuh Tuhan</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=17</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=17#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 11:51:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[maha kuasa]]></category>
		<category><![CDATA[maha murah]]></category>
		<category><![CDATA[melani]]></category>
		<category><![CDATA[melani laksmono]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/2007/11/01/</guid>
		<description><![CDATA[Doa Santo Fransiskus Asisi Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai, Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta, Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan, Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan, Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian, Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran, Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan, Bila terjadi kegelapan, jadikanlah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Doa Santo Fransiskus Asisi</p>
<p>Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai,<br />
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta,<br />
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,<br />
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,<br />
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,<br />
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,<br />
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,<br />
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,<br />
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,<br />
memahami dari pada dipahami,mencintai dari pada dicintai,<br />
sebab dengan memberi aku menerima,dengan mengampuni aku diampuni,<br />
dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.<br />
Amin.</p>
<p>Doa di atas itu adalah doa yang saya kenal dari teman sewaktu tinggal di Amerika dan pada akhirnya keluarganya juga menjadi teladan bagi saya untuk menumbuhkan iman saya.  Terima kasih untuk keluarga Trisnadi terutama Nita dan Steffie. Terima kasih kepada orang-orang yang telah ‘menyentuh&#8217; saya.</p>
<p>Bicara soal ‘menyentuh&#8217; saya dalam kaitan dengan mempertebal keyakinan pada Yang di Atas, saya percaya bahwa Tuhan telah mempercayakan dan menggerakkan hati orang-orang di sekeliling saya agar keimanan saya bertambah dari hari ke hari.</p>
<p>Inilah yang ingin saya sampaikan melalui posting kali ini.  Tuhan memiliki cara yang begitu unik -bahkan kadang tidak terasakan oleh saya.  Mujizat atau ‘karyanya&#8217; baru terasakan ketika suatu problematika hidup telah dilalui.  Dan tiba-tiba saya seperti tersadar dari tidur serta mengucap, &#8220;Oh, maksud Tuhan begini, ya?&#8221; atau &#8220;Saya percaya ini kehendak Tuhan dan hal terbaik yang bisa saya dapatkan.&#8221;</p>
<p>Lalu, dengan cara yang tidak bisa mengerti pula, Tuhan telah membuka mata saya lewat hal-hal sederhana.  Seperti misalnya betapa wong cilik -saya bukan bermaksud memberikan label atau menggolong-golongkan orang, ini sebatas istilah yang saya baca di media massa. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘orang yang belum mapan kondisi ekonominya-bisa berbagi dan berbuat sesuatu dengan sesamanya. Saya percaya, mengajar mereka dalam arti berbagi ilmu akan lebih menghasilkan kebahagiaan batin, dibanding kegiatan lain yang kurang bermanfaat.</p>
<p>Sementara saya, yang disibukkan dengan rutinitas seharian di kantor, lalu ditambah kongkow dengan teman-teman, rasanya belum menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan oleh orang banyak.</p>
<p>Kalau sudah begitu, saya merasakan, betapa Tuhan telah membuka mata saya.  Akan apa yang saya ‘lihat&#8217; dari para wong cilik itu, dengan diri saya sendiri.</p>
<p>Kenyataan wong cilik itu, seolah menyatakan pada saya: bahwa saat kita dalam masa-masa sulit pun, Dia tidak akan meninggalkan kita.</p>
<p>Berangkat dari pandangan ‘kerja&#8217; Tuhan atas manusia, saya terus berusaha untuk lebih mengenal dan memahami Tuhan.</p>
<p>Perjalanan hidup saya untuk bertemu dengan Tuhan sangatlah berkesan. Dari pertama kali mengenal Tuhan sebagai pencipta sampai Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kasih.</p>
<p>Keluarga saya bukanlah penganut agama tertentu. Masih teringat ketika di sekolah dasar yang berbentuk yayasan, saya ditanya oleh guru, kamu agamanya apa? &#8220;Tidak tahu,&#8221; sahut saya. Akibatnya sempat saya berpindah dari satu kelas agama ke kelas agama lainnya. Sampai akhirnya oleh orang tua saya, saya dititipkan kepada sepupu saya (kebetulan seumur) yang beragama Katolik.</p>
<p>Ketika hampir berumur sembilan tahun, tiba-tiba saya dipermandikan (baptis secara Katolik), tanpa mengerti apa-apa. Tak lama kemudian sayapun pindah sekolah, ke sekolah Katolik. Disini saya baru mengenal tata cara Katolik.  Tepatnya mulai dari masuk yang namanya gereja. Sayapun menyukai cara-cara yang diajarkan. Kalau ditanya, apakah saya sudah bertemu dengan Tuhan? Jawabnya &#8220;Belum.&#8221;  Saya melakukan hal itu hanya sebatas menyukai dan keharusan.</p>
<p>Sampai pada sebuah retret sewaktu SMP kelas 3. Di sinilah saya baru merasakan kehadiran Tuhan dalam diri saya, dalam orang tua saya, dalam adik-adik saya, dalam teman-teman saya.  Saya, yang selama ini merasa tidak dicintai oleh orang-orang sekaligus belum mengerti cinta keluarga kepada saya,  merasa diketuk, ditegur dan diingatkan bahwa orang lain bisa melihat saya sebagai sosok yang baik, berguna bahkan dicintai.</p>
<p>Dari sinilah saya mulai mencoba memberanikan diri membuka diri. Seorang teman di SMA tanpa sengaja menolong saya. Namanya Agustina, entah dari mana kami mulai bertukar buku <em>diary</em>.</p>
<p>Saya tidak pernah bicara langsung, alias tidak pernah berani bicara langsung. Semua perasaan dan pertanyaan-pertanyaan, saya tuangkan dalam buku itu. Dalam keseharian-hariannya kami hanya bermain dengan teman-teman sekelompok. Tidak ada yang tahu tentang buku itu. Hampir dua tahun saya melakukan hal ini, tepatnya sampai lulus SMA dan kami berpisah.</p>
<p>Di sinilah saya menemukan Tuhan untuk kedua kalinya. Disini saya mengenal dunia.  Dunia yang tadinya saya anggap tidak adil tapi tidak pernah berani menghadapi kenyataan itu. Dengan tekun dan sabar serta bijaksana Agustina berhasil membimbing saya untuk keluar dari ke&#8217;aku&#8217;an saya (dalam hal ini keakuan yang negatif). Akhirnya setelah lulus SMA, saya bertekat untuk bisa berubah.</p>
<p>Di kuliah aku mencoba memberanikan diri untuk bergaul. Tanpa kenal seorangpun saya bergabung dalam organisasi Pemuda Katolik yang akhirnya berhasil menggembleng saya sehingga saya bisa menemukan jati diri. Kembali saya bersyukur bahwa saya bisa berkembang secara sosial.</p>
<p>Hubungan saya dengan Tuhan, biasa saja. Gereja adalah rutinitas yang harus dijalani. Bukan tipe orang yang rajin berdoa, bukan orang yang senang baca kitab suci, bukan pula orang yang tergolong religius. Sampai akhirnya saya berjumpa dengan teman-teman di Keluarga Katolik Indonesia di Amerika.</p>
<p>Dari asalnya saya hanya ikut kegiatan yang non-religius saja. Piknik, nonton, bowling, jalan-jalan sampai akhirnya entah dari mana mulainya &#8230; saya mulai datang ke acara religius. Asalnya hanya mendengar pasif di barisan belakang. Lama-lama saya mulai tertarik dengan teman-teman yang bercerita tentang ke-iman-an mereka.</p>
<p>Saya mulai berpikir, iman saya seperti apa, ya? Saya tidak kenal Tuhan lebih dalam. Saya hanya tahu Dia baik, murah hati dan ga pernah bosan dengan manusia yang bolak balik bikin dosa. Tapi saya belum menghayati Nya.</p>
<p>Dari mereka akhirnya saya tahu yang namanya berdoa. Berdoa tidak seseram yang dibayangkan. Sampai sekarang kalau saya berdoa, ya sesuai dengan suasana hati saya. Kalau senang ya memuji, bersyukur, menyembah Yang Maha Kuasa. Kalau sedih ya lapor lagi sedih. Kalau marah ya ungkapkan kemarahan tersebut. Memohon ya minta. Pokoknya apa saja yang ada di benak saya, saya coba bawa dalam doa.</p>
<p>Sedikit demi sedikit saya mulai bisa melihat Tuhan bekerja atas diri saya, keluarga saya, teman-teman saya bahkan orang-orang yang tidak saya kenal. Semakin saya menyadari hal itu, semakin saya kagum  atas kemurahan hati Nya.</p>
<p>Biarlah Tuhan yang membimbing saya untuk menambahkan iman saya melalui berbagai macam cara. Biarlah juga Tuhan bekerja agar segala tingkah laku dan tindakan saya bisa menambahkan iman orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=17</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Modus Penipuan-penipuan Atas Hadiah dari Suatu Produk</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=16</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=16#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 11:44:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[attack]]></category>
		<category><![CDATA[daia]]></category>
		<category><![CDATA[dancow]]></category>
		<category><![CDATA[kao]]></category>
		<category><![CDATA[pt koa indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[rinso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/2007/10/29/modus-penipuan-penipuan-atas-hadiah-dari-suatu-produk/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin tanggal 25/10/07, aku ditelepon oleh seorang teman dari Surabaya. Mel, adikmu kerja di Kao (PT. Koa Indonesia) yang produksi Attack. Iya, kenapa?, sahutku.Katanya, ini loch, kakakku pakai produk attack. Sewaktu dia membuka bungkusan baru, ada kertas yang mengatakan bahwa dia memenangkan hadiah mobil. Benar tidak? Bohong, sahutku. Adikku pernah bercerita bahwa customer service-nya sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin tanggal 25/10/07, aku ditelepon oleh seorang teman dari Surabaya. Mel, adikmu kerja di Kao (<em>PT. Koa Indonesia</em>) yang produksi Attack. Iya, kenapa?, sahutku.Katanya, ini loch, kakakku pakai produk attack. Sewaktu dia membuka bungkusan baru, ada kertas yang mengatakan bahwa dia memenangkan hadiah mobil. Benar tidak?</p>
<p>Bohong, sahutku. Adikku pernah bercerita bahwa <em>customer service-</em>nya sedang kewalahan menanggapi orang-orang yang mendapat kertas hadiah tersebut.</p>
<p>Pagi ini aku mengkonfirmasi hal itu kepada adikku. Sampai saat ini sudah 10.000 orang yang mendapatkan kertas hadiah tersebut. Sejauh yang dia ketahui, produk-produk yang juga terkena kertas hadiah tersebut adalah rinso, daiya, dancow. Kebanyakan produk detergen.</p>
<p>Gimana cara mereka memasukkan kertas tersebut, tanyaku? Ya, kemasannya dibuka secara rapih kemudian disegel kembali menggunakan mesin <em>press plastik</em>.</p>
<p>Yang mengagumkan punya dancow. Pertama mereka harus membuka kardusnya kemudian aluminium-nya. Kemudian menggembalikan seperti semula. Cuma terbayang tidak kertas tersebut tidak diketahui steril atau tidak. Bagaimana kalau susu tersebut dikonsumsi oleh anak-anak, terutama balita. Terlepas dari kertas itu sendiri, sewaktu dibuka, kita tidak tau apa yang telah mereka perbuat. Jadi kemungkinan besar susu tersebut sudah tidak steril lagi.</p>
<p>Bagaimana dengan mereka yang benar-benar jadi korban?, tanyaku kembali. Sekarang kebanyakan mereka menelepon layanan konsumen terlebih dahulu. Tetapi memang tak urung ada yang jadi korban, dari yang sekedar transfer pusla HP (<em>hahhhhh!!!</em>) sampai rugi jutaan rupiah (<em>weleh weleh</em>).</p>
<p>Kita semakin harus berhati-hati&#8230;tetapi sebenarnya ini tanggung jawab siapa ya? Polisi untuk menumpas kejahatan ini, perusahaan untuk lebih melindungi produk-produknya (tidak perduli produk atau jasa) atau kita semua harus memberitahu kepada yang lain supaya orang lain tidak tertipu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=16</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pekerjaan yang Saya Sukai</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=15</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=15#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 17:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[berapaberapa]]></category>
		<category><![CDATA[intimedia]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[procon]]></category>
		<category><![CDATA[smsucapan]]></category>
		<category><![CDATA[virtual vending]]></category>
		<category><![CDATA[wikimu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/2007/10/25/pekerjaan-yang-saya-sukai/</guid>
		<description><![CDATA[Urusan pekerjaan&#8230;saya bukan tipe pemilih. Saya mau mencoba, tidak mudah meyerah   tapi kalau sudah jenuh, tetap saja saya ingin sesuatu yang lain.Hal ini yang terjadi pada karir saya. Pekerjaan yang saya lakukan cukup gado-gado. Pekerjaan pertama yang saya pegang adalah bidang properti tepatnya mengelola apartemen-apartemen. Hampir 6 tahun saya menekuni bidang ini di dua perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Urusan pekerjaan&#8230;saya bukan tipe pemilih. Saya mau mencoba, tidak mudah meyerah <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   tapi kalau sudah jenuh, tetap saja saya ingin sesuatu yang lain.Hal ini yang terjadi pada karir saya. Pekerjaan yang saya lakukan cukup gado-gado.</p>
<p>Pekerjaan pertama yang saya pegang adalah bidang properti tepatnya mengelola apartemen-apartemen. Hampir 6 tahun saya menekuni bidang ini di dua perusahaan yaitu JI Management dan PT. Procon Indah/Jones Lang La Salle (waktu itu masih berpartner). Akhirnya sampai saya merasakan ‘kebosanan&#8217; juga.</p>
<p>Tak disangka bidang kedua yang kutekuni adalah bidang informasi teknologi. Jangan dibayangkan saya ahli komputer. Saya masuk di perusahaan informasi teknologi (IT) &#8211; INTIMEDIA tetapi menangani bidang yang berhubungan dengan administrasi (keuangan, akuntansi, sumber daya manusia, legal, administrasi umum lainnya).</p>
<p>Dengan latar belakang saya manajemen maka baik dibidang properti maupun IT saya masih harus belajar banyak. Bidang properti lebih cepat saya kuasai karena lebih nyata dan memang saya suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan properti.</p>
<p>Walaupun fungsi saya di perusahaan IT lebih banyak di admin, mau tidak mau saya mulai mengenal dunia maya dan dunia perangkat lunak ini. Tak ada salahnya pikirku. Lagi pula setiap bertemu dengan orang ataupun teman selalu ditanya mengenai perusahaan dan perusahaan tersebut dapat mengerjakan apa saja. Seperti saya ini jagonya IT&#8230;maaf, jauh dari perkiraan&#8230;</p>
<p>Tak terasa 5 tahun saya menggeluti fungsi administrasi ini. Kejenuhanpun mulai timbul. Saya mulai berbisik-bisik kepada Adrianto (bos &amp; partner kerjaku), ada fungsi lain yang dapat saya kerjakan? Jawaban itu muncul tahun lalu, sekitar Juli 2006. Kamu bantuin aku di divisi baru ya, kata Adrianto. Diapun menjelaskan gambaran divisi baru tersebut.</p>
<p>Sesungguhnya tidak ada bayangan untuk saya, apa yang namanya komunitas, jaringan sosial, jurnalisme publik. Saya hanya mengatakan, OK, aku coba. Mulailah saya bertemu dengan pakar-pakar dibidang baru ini. Awal-awalnya saya menjadi pendengar yang baik saja. Kembali ke proses belajar.</p>
<p>Salah satu yang saya pelajari dari nol adalah bidang jurnalistik. Tidak pernah terbayangkan saya akan menyentuh bidang ini. Disini saya bertemu dengan para pakar jurnalisme yaitu mas Wisnu, mas Wicak, mas Deriz dan mas Bayu. Bersama Adrianto, mereka itulah yang akhirnya menjadi pendiri (<em>founder) </em>wikimu.com.</p>
<p>Wikimu-lah yang membuat ‘akhirnya&#8217; saya belajar menulis, punya blog dan punya teman-teman baru. Walaupun wikimu sudah menjadi milik kita semua (komunitas), ada kekaguman saya kepada para pendiri wikimu. Idealisme, mereka tau apa yang mereka mau, mereka semua mau yang terbaik untuk membangun dunia ini. Masing-masing punya kelebihan atau spesialis di bidangnya.</p>
<p>Mas Wisnu yang selalu banyak ide. Mas Wicak yang tajam, peka dan sensitif melihat suatu hal. Mas Deriz yang mengetahui urusan aturan-aturan dan tren didunia maya. Mas Bayu yang dengan tekun membangun situs wikimu dan komunitas wikimu. Terima kasih mas-mas sekalian, saya belajar banyak.</p>
<p>Dalam membangun jejaring lainpun pasti ada keunikan dan suka dukanya. Satu hal yang saya pelajari dari jejaring ini. Kita boleh merencanakan apa yang akan kita bangun, akhirnya kembali kepada keinginanan komunitas.</p>
<p>Sekarang ini saya mulai mengerti tentang jaringan sosial, jurnalisme publik, komunitas. Bagaimana kita harus membangunnya dengan fokus, keinginan, ketertarikan dari kumpulan orang yang berbeda-beda? Bagaimana ini bisa dijadikan suatu bisnis? Bagaimana jaringan ini harus dipertahakan?</p>
<p>Memang masih panjang jalan yang harus saya lalui untuk dapat dikatakan berhasil, tapi saya sudah menyukai tepatnya mulai jatuh cinta pada pekerjaan ini.</p>
<p><a href="http://www.wikimu.com/">http://www.wikimu.com</a> <a href="http://www.berapaberapa.com/">http://www.berapaberapa.com/</a>   <a href="http://www.virtualvending.net/">http://www.virtualvending.net/</a>   <a href="http://www.smsucapan.com/">http://www.smsucapan.com/</a></p>
<p><em>ps: untuk mas Bayu yang hari ini berulang tahun (kebetulan atau anda beruntung <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </em><em>bisa muncul bersamaan dengan tulisan ini), selamat ulang tahun. sukses untuk wikimu-nya (ech kok wikimu <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ,nebeng boleh ya</em><em>)&#8230; sukses untuk segala cita, karya dan karsa&#8230;panjang umur, sehat selalu dan murah rejeki.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=15</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Coto Makasar Jalan Kendal</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=14</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=14#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 03:09:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[buras]]></category>
		<category><![CDATA[coto makasar]]></category>
		<category><![CDATA[jalan kendal]]></category>
		<category><![CDATA[kendal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/2007/10/24/coto-makasar-jalan-kendal/</guid>
		<description><![CDATA[Inilah kalau berteman dengan orang Ujung Panjang. Setelah keliling-keliling tiba-tiba Meidy mengajakku, makan Coto Makasar yuk&#8230; Dimana? Jalan Kendal. Akhirnya kami berdampar di Anging Mamiri disalah satu kedai makanan dijalan Kendal. Untuk pertamakalinya aku makan coto makasar. Ternyata isi dari coto (soto) mayoritas jeroan: usus, babat, lidah, jantung, limpa, ati dan daging&#8230; Aku memilih usus, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah kalau berteman dengan orang Ujung Panjang. Setelah keliling-keliling tiba-tiba Meidy mengajakku, makan Coto Makasar yuk&#8230; Dimana? Jalan Kendal. Akhirnya kami berdampar di Anging Mamiri disalah satu kedai makanan dijalan Kendal.</p>
<p>Untuk pertamakalinya aku makan coto makasar. Ternyata isi dari coto (soto) mayoritas jeroan: usus, babat, lidah, jantung, limpa, ati dan daging&#8230; Aku memilih usus, babat dan daging sedang Meidy memilih lidah.</p>
<p>Makannya selain menggunakan nasi bisa menggunakan buras atau ketupat. Kebetulan kami memilih burus sebagai teman makan kami.</p>
<p>Rasa coto ini memang dasyat&#8230;gurih, kuahnya yang berwarna coklat dengan lemak tipis yang mengambang, menambah gurihnya kuah ini.  Dari sumber yang harus di periksa lagi kebenarannya, kuah tersebut dibuat dari air beras dan tauco, tentunya dengan beberapa bahan lainnya.</p>
<p>Yang menambah sedap coto ini adalah sambel tauconya. Buat aku yang termasuk penggemar tauco terasa cocok.  Berbicara tantang burasnya, ternyata terasa gurih juga. Berasnya padat tetapi tidak keras. Bila rasanya gurih seperti ini, buras bisa makan begitu saja, apalagi jika sedang lapar-laparnya. Berhubung kami tidak begitu lapar, ketupat luput dari wisata kali ini.</p>
<p>Puas rasanya mencoba coto makasar ini. Harga perposi Rp. 15.000,- tidak mempedulikan isinya apa. Sedangkan harga buras dan ketupat Rp. 2.000,- perbuah. Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=14</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persahabatan Kami Berawal di Gunung Sinai</title>
		<link>http://melanilaksmono.com/?p=13</link>
		<comments>http://melanilaksmono.com/?p=13#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 02:55:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>melanilaksmono</dc:creator>
				<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[meidy]]></category>
		<category><![CDATA[persahabatan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[tanah suci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://melanilaksmono.wordpress.com/2007/10/24/13/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang akan datang dan pergi dalam hidup anda, tetapi hanya teman sejati yang akan meninggalkan jejak di hati anda.(Many people will walk in and out of your life, But only true friends will leave footprints in your heart. by Eleanor Roosevelt). Kebersamaan kami sebagai sahabat diuji saat kami [bersama ibunda masing-masing] berziarah ke Gurun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Banyak orang akan datang dan pergi dalam hidup anda, tetapi hanya teman sejati yang akan meninggalkan jejak di hati anda.(Many people will walk in and out of your life, But only true friends will leave footprints in your heart. by Eleanor Roosevelt).</em></p>
<p>Kebersamaan kami sebagai sahabat diuji saat kami [bersama ibunda masing-masing] berziarah ke Gurun Sinai yang masuk wilayah Mesir, Afrika Utara pada tahun 2005.  Kenangan ini begitu melekat di hati kami berdua.</p>
<p>Berkali-kali berkali-kali Meidy meminta aku menceritakan kejadian ‘Gurun Sinai&#8217; itu. &#8220;Ini bagianmu,&#8221;  katanya. Setelah maju mundur akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan kisah nyata kami <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aku mengenal nama Meidy sejak SMA dari sepupunya, Retty yang selalu mengatakan <em>‘gue punya sepupu yang ulang tahunnya bareng gue&#8217;</em>. Walaupun setiap Retty ultah kata-kata tersebut diulang-ulang, aku tidak pernah berjumpa dengan Meidy. Maklum yang bersangkutan ada di Ujung Pandang [sekarang Makassar].</p>
<p>Singkat cerita, tahun 2005 saya jumpa Meidy di pengobatan alternatif  yang dilakukan oleh  Romo Karoldus. Aku mengantar ibuku, sedang dia mencoba mengobati penyakitnya.  Awalnya aku tidak menyadari bahwa itu adalah Meidy.</p>
<p>Pada saat yang bersamaan Romo tersebut mengadakan ziarah ke tanah suci. Ibuku yang ingin sekali pergi ke tanah suci, mengajak aku untuk menemaninya. Aku mengetahui dari Retty bahwa Meidy bersama ibunya pun pergi dalam grup yang sama. Kami pergi bulan September 2005.</p>
<p>Meski akhirnya sudah berkenalan, aku sendiri tidak mengetahui dan tidak pernah bertanya penyakit apa yang diderita Meidy.  Aku pikir, itu privasi yang bersangkutan.</p>
<p>Sampai acara mendaki Gunung Sinai tiba. Dia berkata, bahwa ibunya melarang pergi.  Tapi Meidy  ingin sekali bisa melihat tempat 10 perintah Allah diturunkan.</p>
<p>Karena peraturan untuk naik harus berpasangan, tidak diperkenankan berjalan sendiri, maka dia mengajak aku jalan bersama. &#8220;Kita bareng ya,&#8221; katanya. </p>
<p>&#8220;OK!&#8221; sahutku.  Karena memang ibuku dan ibunya tidak akan mengikuti acara pendakian Gunung Sinai ini.</p>
<h4>Penyakit Meidy membuat langkahnya ke puncak gunung tersendat.</h4>
<p>Perjalanan dimulai jam 01.00 dengan naik bus ke kaki gunung.  Kemudian selama kurang lebih 2 jam kami naik onta menyusuri gurun pasir sampai titik di mana para onta tidak dapat naik karena sudah bukan kawasan gurun lagi melainkan bebatuan.</p>
<p>Dari situ kami harus berjalan lagi sekitar 1 ½ -2 jam untuk mencapai Puncak Sinai.  Jangan tanyakan capeknya! Juga dingin yang menggigil karena cuaca di gurun, yaitu pasir yang cepat menyerap panas [saat ada matahari]  sekaligus cepat melepas panas [begitu matahari terbenam].  Kami membekali diri dengan jaket tebal.</p>
<p>Satu setengah jam pertama berjalan kaki, terasa lancar.  Walaupun aku dan Meidy lebih sering beristirahat.  Semakin tinggi kami mendaki semakin pelan langkah kami.</p>
<p>Di suatu tempat, tiba-tiba dia berhenti.  Merogoh tasnya dan berkata, &#8220;Mel tolong buka obat ini!&#8221;  Sementara dia sudah mulai bersandar di batu dan sesudahnya tak bisa bicara lagi.</p>
<p>Aku langsung membuka dan memberi obat tersebut. Beruntung dia masih sadar karena aku tidak tahu bagaimana penggunaan obat tersebut.  Obat ini <strong>harus ditaruh di bawah lidah</strong>. Panik, aku pun lagsung berteriak, &#8220;<strong>ROMO, TOLONG</strong>!!!!&#8221;</p>
<p>Beruntung Romo Karoldus berdiri tak begitu jauh dan sedari tadi memang menemani kami yang pelan jalannya.  Romo pun bergegas membantu Meidy yang sudah sempoyongan. Sementara aku hanya bengong tidak tahu apa yang harus diperbuat.</p>
<p>Dengan pengobatan alternatif ‘prana&#8217;, Romo mencoba menetralkan keadaan Meidy.  Waktu sekitar 5 menit yang rasanya begitu lama untukku.</p>
<p>Setelah Romo selesai dengan prananya, beliau mencarikan tempat berlindung untuk Meidy. Kami menemukan batu yang menjorok sehingga kesannya seperti sebuah gua kecil. Romo berkata pada Meidy, &#8220;Kamu diam di sini ya, jangan kemana-mana!&#8221;</p>
<p>Akupun siap-siap hendak duduk bersamanya.  Tapi Romo berkata, &#8220;Melani kamu jalan!&#8221;</p>
<p>Bengonglah aku.  &#8220;Meidy ditinggal sendiri, Romo?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Iya, tidak apa-apa,&#8221; sahut Romo.</p>
<p>Aku memandang Romo dan Meidy bergantian. &#8220;Tidak apa-apa, Romo.  Nanti saya jalan pelan-pelan saja dengan Meidy kalau dia sudah kuat lagi,&#8221; aku coba negosiasi.</p>
<p>Tetapi Romo memberi ultimatum, &#8220;Meidy tidak boleh naik dan kamu harus naik!&#8221;</p>
<p>Batinku bergolak.  Aku memandang Meidy dan berkata, &#8220;Aku temani kamu saja ya!&#8221;</p>
<p>Tapi dasar kepala batu.  Meidy menolak!  Maunya ditinggal sendiri di situ. Akhirnya, mesti tak tega,  aku pun pamit.</p>
<p>Aku naik bersama Romo dan sisa rombongan. Sampai di Puncak Sinai kami berkumpul.  Berdoa dan merenung.  Memang Tuhan adalah segalanya. Tak dapat kulukiskan perasaanku saat itu. Sebagai manusia yang kerap jatuh dalam dosa, aku memang tidak berarti tanpaNya.</p>
<p>Acarapun selesai, matahari mulai memancarkan sinar.  Keindahan yang luar biasa tampak di depan mata.  Aku mensyukuri nikmatnya.  Tapi ingatan akan Meidy yang ditinggal sendirian dalam ‘gua&#8217; terus membuatku was-was.  Apakah dia baik-baik saja?</p>
<h4>Bagaimana kabar Meidy </h4>
<p>Aku tak sabaran untuk memastikan bahwa Meidy baik-baik saja.  Apakah ia tidak ‘membeku&#8217; di dalam ‘gua&#8217; kecil itu?</p>
<p>Melihat orang-orang mulai bergerak turun dari Puncak Sinai, aku minta ijin kepada <em>tour guide</em> dan Romo Karoldus untuk balik lebih dulu.</p>
<p>Romo beserta satu keluarga dalam rombongan kami menemani aku turun. Rasanya lama sekali perjalanan turun.  Apalagi sewaktu naik keadaannya gelap, matahari belum terbit.  Jadi aku tidak punya naluri; dimanakah Meidy berada? <em>Semoga tidak ketemu orang aneh-aneh</em>, pintaku dalam hati.</p>
<p>Ternyata kami meninggalkan dia tidak begitu jauh.  Hanya sekitar 15 menit perjalanan [turun lebih cepat daripada naik], kami sudah bisa melihat bayangannya.  Diapun sedang memandang orang-orang yang sedang turun.  Berteriaklah aku memanggilnya dan kupercepat langkahku.</p>
<p>Sesampainya di ‘gua pertapaannya&#8217;, dia tertawa-tawa memandangku. &#8220;Kenapa lari-lari?&#8221; tanyanya.  Aduh, ini nantang atau apa? <img src='http://melanilaksmono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Aku lega melihat dia sudah segar, walaupun masih bertanya-tanya dalam hati, <em>Meidy mampu turun, nggak? </em>Kamipun berjalan ke arah tempat onta berada. Aku bertanya, &#8220;Mau naik onta lagi atau jalan?&#8221; Di luar dugaan dia menjawab,&#8221;Jalan aja ya, tapi temani!&#8221;</p>
<p>Sedangkan rombongan lain ada yang naik onta dan mendampingi pasangan masing-masing.</p>
<p>Akhirnya kami berdua berjalan mengikuti jalan setapak.  Tepatnya beberapa jalan setapak. Kami hanya memakai naluri kami saja. </p>
<p>Selama masih ada jalan setapak dan masih melihat orang, kami jalan menuruni gurun yang sudah mulai panas.  Matahari mulai terik dan angin yang berhembus pun mulai terasa hangat.</p>
<p>Sepanjang jalan dia bercerita tentang penyakitnya dan pengalaman sendirian di ‘gua pertapaan&#8217;. Kami sampai di kaki Gunung Sinai dengan selamat (pasti selamat ya&#8230;sekarang masih ada). Walaupun kami merasa jalan kami santai tapi kami termasuk yang awal-awal sampai di bawah atau kaki gunung.</p>
<p>Rupanya kami benar-benar mengikuti jalan pintas, yang katanya tidak begitu enak untuk dilalui. Anehnya, kami tidak merasakan hal itu.</p>
<p>Mungkin perjalanan itu sendiri lebih berarti bagi kami.  Dan yang pasti kami diberi berkat yang melimpah pada saat itu. Di tengah padang gurun, di puncak gunung, merasakan dingin dan kelamnya malam, di bawah langit dengan taburan bintang. Kemudian dalam hitungan jam merasakan hangatnya angin dan teriknya matahari disertai hamparan pasir.  Kami tidak tahu, kami berada dimana.</p>
<p>Tuhan telah menyertai kami berdua dan memberi seorang sahabat bagi kami masing-masing. Sahabat yang tidak meninggalkan aku di kala aku susah, sedih&#8230; dan yang kuajak tertawa bila kusenang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://melanilaksmono.com/?feed=rss2&amp;p=13</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
