1st Nov, 2007

Disentuh Tuhan

Doa Santo Fransiskus Asisi

Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta,
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur,
memahami dari pada dipahami,mencintai dari pada dicintai,
sebab dengan memberi aku menerima,dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin.

Doa di atas itu adalah doa yang saya kenal dari teman sewaktu tinggal di Amerika dan pada akhirnya keluarganya juga menjadi teladan bagi saya untuk menumbuhkan iman saya.  Terima kasih untuk keluarga Trisnadi terutama Nita dan Steffie. Terima kasih kepada orang-orang yang telah ‘menyentuh’ saya.

Bicara soal ‘menyentuh’ saya dalam kaitan dengan mempertebal keyakinan pada Yang di Atas, saya percaya bahwa Tuhan telah mempercayakan dan menggerakkan hati orang-orang di sekeliling saya agar keimanan saya bertambah dari hari ke hari.

Inilah yang ingin saya sampaikan melalui posting kali ini.  Tuhan memiliki cara yang begitu unik -bahkan kadang tidak terasakan oleh saya.  Mujizat atau ‘karyanya’ baru terasakan ketika suatu problematika hidup telah dilalui.  Dan tiba-tiba saya seperti tersadar dari tidur serta mengucap, “Oh, maksud Tuhan begini, ya?” atau “Saya percaya ini kehendak Tuhan dan hal terbaik yang bisa saya dapatkan.”

Lalu, dengan cara yang tidak bisa mengerti pula, Tuhan telah membuka mata saya lewat hal-hal sederhana.  Seperti misalnya betapa wong cilik -saya bukan bermaksud memberikan label atau menggolong-golongkan orang, ini sebatas istilah yang saya baca di media massa. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘orang yang belum mapan kondisi ekonominya-bisa berbagi dan berbuat sesuatu dengan sesamanya. Saya percaya, mengajar mereka dalam arti berbagi ilmu akan lebih menghasilkan kebahagiaan batin, dibanding kegiatan lain yang kurang bermanfaat.

Sementara saya, yang disibukkan dengan rutinitas seharian di kantor, lalu ditambah kongkow dengan teman-teman, rasanya belum menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan oleh orang banyak.

Kalau sudah begitu, saya merasakan, betapa Tuhan telah membuka mata saya.  Akan apa yang saya ‘lihat’ dari para wong cilik itu, dengan diri saya sendiri.

Kenyataan wong cilik itu, seolah menyatakan pada saya: bahwa saat kita dalam masa-masa sulit pun, Dia tidak akan meninggalkan kita.

Berangkat dari pandangan ‘kerja’ Tuhan atas manusia, saya terus berusaha untuk lebih mengenal dan memahami Tuhan.

Perjalanan hidup saya untuk bertemu dengan Tuhan sangatlah berkesan. Dari pertama kali mengenal Tuhan sebagai pencipta sampai Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kasih.

Keluarga saya bukanlah penganut agama tertentu. Masih teringat ketika di sekolah dasar yang berbentuk yayasan, saya ditanya oleh guru, kamu agamanya apa? “Tidak tahu,” sahut saya. Akibatnya sempat saya berpindah dari satu kelas agama ke kelas agama lainnya. Sampai akhirnya oleh orang tua saya, saya dititipkan kepada sepupu saya (kebetulan seumur) yang beragama Katolik.

Ketika hampir berumur sembilan tahun, tiba-tiba saya dipermandikan (baptis secara Katolik), tanpa mengerti apa-apa. Tak lama kemudian sayapun pindah sekolah, ke sekolah Katolik. Disini saya baru mengenal tata cara Katolik.  Tepatnya mulai dari masuk yang namanya gereja. Sayapun menyukai cara-cara yang diajarkan. Kalau ditanya, apakah saya sudah bertemu dengan Tuhan? Jawabnya “Belum.”  Saya melakukan hal itu hanya sebatas menyukai dan keharusan.

Sampai pada sebuah retret sewaktu SMP kelas 3. Di sinilah saya baru merasakan kehadiran Tuhan dalam diri saya, dalam orang tua saya, dalam adik-adik saya, dalam teman-teman saya.  Saya, yang selama ini merasa tidak dicintai oleh orang-orang sekaligus belum mengerti cinta keluarga kepada saya,  merasa diketuk, ditegur dan diingatkan bahwa orang lain bisa melihat saya sebagai sosok yang baik, berguna bahkan dicintai.

Dari sinilah saya mulai mencoba memberanikan diri membuka diri. Seorang teman di SMA tanpa sengaja menolong saya. Namanya Agustina, entah dari mana kami mulai bertukar buku diary.

Saya tidak pernah bicara langsung, alias tidak pernah berani bicara langsung. Semua perasaan dan pertanyaan-pertanyaan, saya tuangkan dalam buku itu. Dalam keseharian-hariannya kami hanya bermain dengan teman-teman sekelompok. Tidak ada yang tahu tentang buku itu. Hampir dua tahun saya melakukan hal ini, tepatnya sampai lulus SMA dan kami berpisah.

Di sinilah saya menemukan Tuhan untuk kedua kalinya. Disini saya mengenal dunia.  Dunia yang tadinya saya anggap tidak adil tapi tidak pernah berani menghadapi kenyataan itu. Dengan tekun dan sabar serta bijaksana Agustina berhasil membimbing saya untuk keluar dari ke’aku’an saya (dalam hal ini keakuan yang negatif). Akhirnya setelah lulus SMA, saya bertekat untuk bisa berubah.

Di kuliah aku mencoba memberanikan diri untuk bergaul. Tanpa kenal seorangpun saya bergabung dalam organisasi Pemuda Katolik yang akhirnya berhasil menggembleng saya sehingga saya bisa menemukan jati diri. Kembali saya bersyukur bahwa saya bisa berkembang secara sosial.

Hubungan saya dengan Tuhan, biasa saja. Gereja adalah rutinitas yang harus dijalani. Bukan tipe orang yang rajin berdoa, bukan orang yang senang baca kitab suci, bukan pula orang yang tergolong religius. Sampai akhirnya saya berjumpa dengan teman-teman di Keluarga Katolik Indonesia di Amerika.

Dari asalnya saya hanya ikut kegiatan yang non-religius saja. Piknik, nonton, bowling, jalan-jalan sampai akhirnya entah dari mana mulainya … saya mulai datang ke acara religius. Asalnya hanya mendengar pasif di barisan belakang. Lama-lama saya mulai tertarik dengan teman-teman yang bercerita tentang ke-iman-an mereka.

Saya mulai berpikir, iman saya seperti apa, ya? Saya tidak kenal Tuhan lebih dalam. Saya hanya tahu Dia baik, murah hati dan ga pernah bosan dengan manusia yang bolak balik bikin dosa. Tapi saya belum menghayati Nya.

Dari mereka akhirnya saya tahu yang namanya berdoa. Berdoa tidak seseram yang dibayangkan. Sampai sekarang kalau saya berdoa, ya sesuai dengan suasana hati saya. Kalau senang ya memuji, bersyukur, menyembah Yang Maha Kuasa. Kalau sedih ya lapor lagi sedih. Kalau marah ya ungkapkan kemarahan tersebut. Memohon ya minta. Pokoknya apa saja yang ada di benak saya, saya coba bawa dalam doa.

Sedikit demi sedikit saya mulai bisa melihat Tuhan bekerja atas diri saya, keluarga saya, teman-teman saya bahkan orang-orang yang tidak saya kenal. Semakin saya menyadari hal itu, semakin saya kagum  atas kemurahan hati Nya.

Biarlah Tuhan yang membimbing saya untuk menambahkan iman saya melalui berbagai macam cara. Biarlah juga Tuhan bekerja agar segala tingkah laku dan tindakan saya bisa menambahkan iman orang lain.

Responses

Hei aku suka cerita ini Mel, ternyata dari sosok yang kukira kukenal masih ada juga sisi yang selama ini tidak kutahu…

Betapa seringkali kita hanya berhadapan dengan “sosok” yang terlihat tanpa berusaha “memberi” lebih…semoga tangan Tuhan senantiasa membimbing kita untuk menjadi alat dalam pekerjaanNya.

Isn’t He amazing, our God ?

Saya pikir, saya bisa jauh dari Dia
Saya pikir, saya bisa bisa tinggalkan Dia
Saya pikir, saya bisa tidak setia sama Dia

Karena saya bisa mengingkari diri saya..

Tapi Dia selalu dekat sama saya
Tapi Dia selalu bersama saya
Tapi Dia selalu setia sama saya

Karena Dia tidak bisa mengingkari diriNya..

Jbu

bagus sekalimbak Mel. ternyata ini to sisi lain dari mbak Mel yang ternyata baru kutahu…

Leave a response

Your response:

Categories