Dalam sebuah acara keluarga, sepupuku menanyakan kepada adikku yang akan menikah. Sudah nonton ‘license to wed’, nonton dech…cocok untuk orang yang akan menikah. Buat yang sudah nikahpun, boleh juga…biar ingat-ingat pernikahannya bagaimana. Terlepas dari nikah atau belum nikah filmnya juga lucu.Akhirnya Sabtu kemarin (3/11) adikku bersama calonnya dan beberapa orang lagi nonton ‘license to wed’ filem yang dibintangi oleh Robin Williams , Mandy Moore, John Kasinski.
Ceritanya ada seorang pastor Frank (Robin W) yang selalu memberi kursus perkawinan kepada calon pengantin untuk membuktikan bahwa mereka memang saling mencintai.
Ben Murphy (John K) & Sadie Jones (Mandy M) yang sudah berpacaran selama 6 bulan memutuskan untuk segera menikah. Setelah menghadap Frank dan diberikan syarat untuk kursus perkarwinan, walaupun Ben berkeberatan, akhirnya ia setuju. Masing-masingpun diberi buku untuk menulis janji pernikahan mereka. Frank tidak akan menggunakan janji yang standar.
Test pertama adalah interview pribadi. Frank mewawancarai Ben dengan berbagai pertanyaan yang terkadang memojokkan untuk mengetes kenapa Ben suka dengan Sadie. Test pertama ini boleh dikata tidak lolos karena dari jawaban Ben, ketertarikan kepada Sadie lebih banyak fisik.
Setelah beberapa tes, mulailah masuk ke keluarga. Di sini Frank mempersilahkan Ben memberikan pendapat tentang masing-masing orang dari keluarga Sadie. Mulai dari nenek, ayah, ibu dan seterusnya. Demikianlah dari pihak keluarga Sadie harus memberikan pendapat tentang Ben.
Di sini kekacauan mulai terjadi. Hujat menghujat terjadi. Sadie kecewa dengan Ben. Ben kecewa dengan Sadie. Hampir saja mereka melakukan hubungan intim untuk memecahkan persoalan ini, yang menurut Frank tidak boleh. Frank tahu karena ia selalu ‘menyadap’ ruang mereka dengan cepat mengatasi hal ini.
Kekacauan kedua terjadi setelah dengan santainya Sadie menuturkan bagaimana keinginannya melakukan hubungan intim dengan Ben di depan Frank.
Tes terakhir adalah menyenai kepercayaan dan komunikasi antarmereka. Sadie harus mengendarai mobil dengan mata ditutup sedangkan Ben harus memberi petunjuk. Di sinipun terjadi pertikaian.
Ben semakin tidak suka dan ingin menjatuhkan Frank. Setelah dicari-cari akhirnya Ben menemukan titik lemahnya bahwa Frank pernah menikah (padahal pastor tidak boleh menikah). Ternyata penyelidikan Ben yang hanya setengah-setengah itu salah.
Marahlah Sadie dan membatalkan pernikahan tersebut, terlebih-lebih setelah Sadie mengetahui di buku janji pernikahan milik Ben, tidak ada tertera satu katapun, hanya ada sebuah gambar kartun. Akhirnya Sadie dan keluarga pergi berlibur ke tempat yang seharusnya jadi tempat bulan madu Sadie dan Ben di Jamaica.
Ben-pun menelepon Frank, menanyakan apakah dia orang yang pertama yang gagal melewati tes tersebut? Frank menjawab, siapa yang menentukan gagal, saya tidak pernah mengatakan ini berakhir. Seketika itu Ben sadar bahwa kuncinya adalah dirinya sendiri. Diapun menyusul Sadie.
Sedang Sadie curhat kepada keluarganya. Ternyata yang didapat adalah Sadie masih mengutamakan keluarga dan sahabatnya. Padahal sebagai suami tentu Ben ingin juga dijadikan tempat berpijak bagi Sadie.
Ini dia akhir yang romatis. Ben menuliskan janji pernikahannya di atas pasir. Setelah minta nasihat kepada Frank, Sadie-pun sadar bahwa cintanya kepada Ben adalah cinta sesungguhnya. Menikahlah mereka. Film ini diambil dari peristiwa sehari-hari yang dialami oleh pasangan mulai dari perbedaan pendapat, komunikasi, sampai masalah kepercayaan.
Dikemas dalam cerita komedi yang menarik walaupun terkadang telampau ekstrim, film ini tetap dapat menyampaikan pesan kepada pasangan-pasangan. Jalan ceritanya sendiri sudah dapat ditebak. Mulai dari masalah yang ringan sampai akhirnya terjadi puncak konflik dan terakhir kesadaran untuk memecahkan konflik tersebut.
Bolehlah untuk film hiburan yang membawa pesan ringan untuk kita semua.