Salah satu kesenanganku adalah ‘Menemani Orang Berbelanja’. Aku sendiri bukan tipe orang yang senang belanja. Definisi ‘belanja’ yang kumaksud adalah berbelanja kebutuhan yang bukan primier (utama).
Setiap kali aku diminta untuk menemani orang berbelanja di pasar, supermarket, mall, outlet sampai pasar bunga dan pasar ikan, akan kujabani! Jadi kalau di antara kalian perlu teman, boleh hubungi aku. Cuma, tahapku baru sampai pembeli barang, belum membeli jasa.
Ada sebuah alasan, kenapa aku senang sekali menemani teman-temanku belanja. Karena dengan begini aku jadi tahu kesukaan mereka. Termasuk cara mereka memilih barang sampai acara tawar-menawar atau pertimbangan mereka untuk jadi membeli atau tidak. Singkatnya, sampai ada kata “putus”. Diputuskan masuk keranjang belanjaan atau diputuskan ditaruh kembali di tempatnya alias batal dibeli.
Karena punya sederet pengalaman mengantar belanja, akhirnya aku bisa membuat semacam kategori untuk para pembelanja.
Versiku ini, didasarkan pada beberapa parameter yang biasanya unik dan berbeda-beda pada setiap orang, di mana akhirnya menjadi ciri khas yang bersangkutan.
Uraiannya sebagai berikut:
Berdasarkan barang yang [akan] dibeli.
Ini yang menjadi pertimbangan mereka pergi berbelanja. Ada orang yang sudah tahu apa yang mau dibeli. Jadi sewaktu berbelanja tinggal mempertimbangkan kualitas serta harga. Mereka ini masuk ‘Tipe sudah tahu’.
Misal, orang itu akan membeli bunga mawar. Ya di tempat tujuan tinggal memilih warna sesuai dengan persediaan yang ada dan harga yang cocok. Demikian pula sebaliknya, kalau mau bunga warna merah tapi terserah jenisnya apa, ya nanti lihat di sana bunga yang tersedia apa saja. Lalu tinggal pilih.
Yang repot adalah orang yang tidak tahu mau beli apa tapi ingin pergi belanja! Contohnya, seseorang butuh baju kerja tapi tidak tahu ingin warna apa dan modelnya bagaimana. Jadi bisa dibayangkan alangkah lama waktu belanja yang diperlukan. Tipe yang demikian aku sebut sebagai ‘Tipe belum tahu’.
Namun, ada lagi tipe yang lebih ‘lucu’ soal kebutuhan membeli barang ini. Yaitu sebuah tipe yang kusebut sebagai ‘Tipe boros di ongkos dan waktu’. Yaitu mereka yang senangnya lihat-lihat dulu kemudian dipertimbangkan semua yang sudah dilihat bahkan kalau perlu keputusannya tidak pada saat itu. Yang ini hasilnya, bolak-balik ke tempat tujuan. Jelas boros di waktu dan ongkos, kan?
Berdasarkan waktu berbelanja.
Umumnya, saat butuh sebuah barang maka seseorang akan berbelanja. Istilahnya, mau tidak mau harus ada, soalnya lagi butuh. Mereka yang membeli barang karena alasan ini aku kategorikan sebagai ‘Tipe yang cenderung untuk melihat kegunaan’, kesenangan ataupun kualitas si barang belanjaan.
Tapi, ada lagi tipe yang berbelanja karena mementingkan gaya, ketenaran bahkan sekadar ikut-ikutan. Masuk ‘Tipe modis’ atau selalu mengikuti mode alias up-to-date. Bahkan kalau perlu sampai bikin statement, “Saya harus punya tanaman gelombang cinta.” Jadi, orang itu mempunyai tanaman gelombang cinta bukan karena suka, bukan karena butuh, juga bukan karena pertimbangan investasi tetapi lebih karena, “Tetangga saya punya, kenapa saya tidak punya?” (bisa gengsi, bisa ikut arus) atau ”Hmmm, kalau saya tidak punya sekarang nanti akan banyak dipunyai orang. Jadi, saya harus dapat predikat yang duluan punya. Pokoknya yang paling awal memiliki.”
Tipe ini, berbanding terbalik dengan ‘Tipe diskon’ atau ‘Tipe harga miring’. Cirinya lebih gampang terlihat, tunggu saja sampai ada diskon atau harga promo. Pendeknya bisa dapat harga terbaik.
Meski demikian, kualitas masih mereka pertimbangkan juga, lho. Tipe ini biasanya jeli. Dapat menghitung Rupiah yang akan dikeluarkan, juga tahu apa kebutuhan mereka yang akan dibeli. Biasanya lagi, mereka hapal kapan akan sale! Dan jangan salah, tipe ini akan tahu ini diskon-diskonan atau benar-benar diskon.
Nah, setelah panjang lebar membeberkan aneka tipe pembelanja tadi, mungkin kalian bertanya-tanya: tipe manakah yang paling aku sukai sewaktu menemani orang berbelanja? Pilihanku jatuh pada: Tipe sudah tahu apa yang mau dibeli plus Tipe diskon. Ini nilai ekonomisnya paling tinggi!
Uniknya, kalau ditanya tipe mana yang paling tidak kusukai, jawabnya tidak ada. Lha wong hobiku senang menemani orang belanja
Dan buat diri sendiri, kalau mau menggolongkan diri ke tipe belanja yang bagaimana, hari gini … ya sedapat mungkin aku pilih diskon atau bonus. Tapi repotnya, aku ini termasuk susah untuk menentukan barang mana yang akan kubeli. Jadi tipe belanjaku bukanlah yang paling ekonomis.
Soal paling ekonomis ini, aku juga punya contoh. Beberapa waktu lalu, aku menemani seorang teman berbelanja. Dia sedang butuh rok. Didapatlah rok yang dia kehendaki, dan pastinya harga diskon. Tiba di kasir, dia mengeluarkan voucher lagi. Ternyata diskon tambahan! Jadi dia dapat double diskon.
Jarang-jarang ada toko yang mau memberlakukan hal itu. Biasanya barang diskon tidak akan dikombinasikan dengan diskon lainnya. Entah kenapa, dengan kejeliannya dia bisa mendapatkan hal menarik ini. Alhasil, bengonglah aku. Beli kainnya saja belum tentu dapat, apalagi ditambah ongkos jahitnya. Sudah pasti ekonomis bangetlah jatuhnya! Ini yang salah temanku atau tokonya ya? Atau toko yang bersangkutan sedang bagi-bagi bonus kepada pelanggan juga? Boleh juga kalau banyak toko yang demikian. Bonus dibagikan tidak hanya kepada karyawan tetapi kepada pelanggan juga